Posts

Malam itu...

 Malam itu...  Malam itu kurapikan barangku Katamu kita bertemu Baju andalan ku pakai Paksa ku gerai ikalku Menemui mu Naas kudapati kamu tergeletak Aku buru buru membangunkan mu Aku buru buru berteriak Panik tidak karuan  Aku kalut bingung apa ku buat Ternyata malam itu kamu baik baik saja Kamu tidak sendiri Bayangan mirip aku ada disampingmu

Jalan pulang

Mengapa kau menggenggam ku sangat kuat Lalu melepaskan ikatan mu Kau tahu...aku terpental sangat jauh Dan tak kutemukan jalan pulang Karya Roswita Margarit Wonga 

Pasrah kupetik dari filosofi teras

 Kamu tahu aku lebih bahagia dari sebelumnya Aku lebih tenang dan itu karena kamu  ada di dalamku Andai saja aku tetap menangis dan tak mendengar kamu waktu itu Aku tidak tumbuh...  Kamu membersihkan ku dari puing puing luka Yang tak pernah kuceritakan pada yang lain tidak jua padamu Aku yang memendam suara bising mengigit kerah bajuku ketakutan  Kamu memeluk ku kamu menenangkan ku Terimakasih karena telah menyembuhkan kan ku Terimakasih karena telah menemukan ku di tempat paling gelap dan sepi  Aku tidak tahu sampai kapan waktu mengijinkan ku menjadi pulang mu Tetapi aku tetap disini..  Di tempat...  Pertama kali kamu menatapku Karya : Roswita Margarit Wonga
 Terimakasih Februari Kosong Empat Tadinya kupikir telah usai  bak rasa mati Tadinya kukira telah hilang bak rasa sirna Tapi februari bilang kau masih punya harapan Jangan tinggal terlalu lama disana gelap tak ada cahaya Genggam saja kali ini tidak takut tidak pula kau perlu gelisah apalagi tambahan sesenduk keragu-raguan Terlalu indah  bila kau lewati ini Ya februari bilang ini tidak palsu Tetapi kami bersepakat memeluk waktu Dan membiarkan semuanya berjalan  Membuka hari dengan kata kata kekuatan Membuktikan setiap hari dengan  aksi dari cinta katanya Karya. RMW

Puisi Hujan Bulan Desember

 Hujan bulan Desember Kamu dan hujan bulan Desember bertemu di perempatan waktu itu Kaku bisu tanpa kata namun tetap berteguh  Antara hilang, antara bahagia di ujung jalan malam itu Seseorang pada senja dan remang remang setelah hujan bulan Desember Meyakinkan retorika klasik bahwa ada pelangi selepas itu Kini nyanyian beralih pada cinta terkalibrasi Setiap syair mewakili hati yang nelangsa mencari bersama butir butir hujan bulan Desember Kamu dan hujan bulan Desember Akan Jadi nanti yang kulepas atau nanti yang ku genggam Oleh Roswita Margarit Wonga

Puisi Cerita Ambigu

 Cerita Ambigu Telah dia maknai rasa itu sebagai rasa ambigu sesuatu yang terlihat seperti ditelan namun semakin kencang pada Indra dan tidak rancu Setiap waktu dia dihantam kata entah pada putih atau pada tulisan di halaman lain  Beberapa dari mereka sangat melekat Mengapa harus ada hitam bila putih hadir setelahnya mengapa harus ada kesedihan Bila bahagia tercipta Sebut saja itu baris ambigu yang terekam dalam kalbu Kalau saja semesta beri satu nyata  bukannya ilusi yang bersanding halusinasi Lalu beri pertanda bahwa itu bukan cerita ambigu Dan dia akan bertemu pada rumah yang namanya cinta Oleh Roswita Margarit Wonga 

Puisinya Rindu

 Tertatih-tatih hatiku berlari dalam irama yang tidak berarti,  Dalam masa mencintai dan pergi Pilihku adalah pergi Sesekali pesan nya mengusik Takut mengalir kupilih tidak peduli Dalam kembali kutulis catatan ini Mereka masih masih yang paling berati Pemenang dalam setiap puisi rindu Walau lirih kadang mengusik By Roswita Margarit Wonga